Rabu, 05 Juni 2013

Mengungkap Rahasia Dibalik Indahnya Shalat Subuh

IslamicSmartLeadership.blogspot.com

Sahabat yang semoga dirahmati Allah Swt, ada seorang bapak telah mendapat surat peringatan dari kantornya karena selalu telat datang ke kantor. Maka untuk menghindari surat peringatan yang berikutnya, ia selalu berusaha bangun pagi agar tidak telat lagi. Lihatlah betapa bapak ini begitu taat dan takut kalau dia datang kesiangan ke kantor karena aturan manusia.

Sekarang pernakah kita berpikir berapa kali kita sering telat bangun pagi untuk shalat subuh berjamaah? Dan pernahkah kita merasa takut akan surat peringatan dan sanksi dari Allah Swt, sebagaimana bapak yang di atas begitu takut terkena sanksi dari atasannya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa sholat Isya’ berjamaah, maka seakan-akan dia melakukan qiyamul lail tengah malam dan barang siapa sholat subuh berjama’ah maka seakan-akan dia melakkan sholat sepanjang malam.” (HR. Imam Ahmad dan Imam Muslim melalui Utsman bin Affan).

Cahaya di hari kiamat. Sholat subuh merupakan sumber dari segala sumber cahaya di hari kiamat. Di hari itu, semua sumber cahaya di dunia akan padam. Matahari akan digulung dan bintang-bintang pun berjatuhan, sebagaimana firman Allah : “Apabila matahari digulung. Dan apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwir : 1-2).

Manusia dibangkitkan dalam keadaan gelap gulita. Gelap yang berlipat ganda. Saat itu, manusia membutuhkan cahaya supaya bisa meraba jalannya, agar bisa melewati kumpulan orang-orang yang begitu banyak jumlahnya. Tatkala melewati Sirath (jembatan akhirat), cahaya sangat dibutuhkan.
Rasulullah mengabarkan dalam sebuah sabdanya tentang cahaya yang dapat menyinari seorang Muslim saat kiamat nanti. Sumber cahaya itu berasal dari sholat subuh yang dikerjakan berjamaah. “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di kegelapan malam bahwa mereka akan beroleh cahaya yang sempurna di hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah di dalam kitab shahihnya, dan Imam Hakim).

Dalam hadits di atas, Rasulullah menegaskan barang siapa yang berjalan di kegelapan malam menuju tempat sholat (masjid) maka makin besarlah cahayanya dan sinarnya makin luas pada hari kiamat. Orang mukmin megetahui bahwa menjalani kegelapan di dunia ini imbalannya adalah cahaya di akhirat. Berjalan di kegelapan malam menuju masjid tiada lain menabungkan cahaya baginya yang menerangi jalannya di atas Shirath sehingga ia dapat menyeberanginya sampai ke surga.

Allah Swt akan mengubah apa yang terjadi di muka bumi ini dari kegelapan menjadi keadilan, dari kerusakan menuju kebaikan. Semua itu terjadi pada waktu yang mulia, ialah waktu Subuh. 

Berhati-hatilah, jangan sampai tertidur pada saat yang mulia ini. Allah Swt akan memberikan jaminan kepada orang yang menjaga salat Subuhnya, yaitu terbebas dari siksa neraka jahanam. 

Shalat Subuh merupakan hadiah dari Allah Swt. Hadiah ini tidak diberikan, kecuali kepada orang-orang yang taat lagi bertobat. Hati yang diisi dengan cinta kemaksiatan, bagaimana mungkin akan bangun untuk shalat Shubuh

Dibukakan pintu rezeki. Keberkahan subuh juga membuka pintu-pintu rezeki-Nya yang telah dihamparkan di hari itu. Sebab itu, Allah SWT menyerukan kaum muslimin untuk menyambut rezeki-Nya dengan segera bangun pagi.

Memperoleh kesehatan dan kesegaran. Keberkahan lain yang dipetik oleh orang yang bangun subuh adalah sehat. Hal ini, menurut majalah al Mujtama, Kuwait disebabkan oleh banyak faktor, antara lain : udara pada waktu subuh mengandung kadar gas ozon dalam presentase yang lebih pekat kemudian menipis secara bertahap seiring dengan terbitnya matahari. Gas ozon ini diserap oleh urat-urat syaraf tubuh dan memberikan stimulan kepadanya sehingga otak dan otot dapat bekerja secara optimal, presentase sinar ultra violet pada pagi hari relatif lebih kuat. Sinar ini merangsang kulit tubuh untuk membuat vitamin D yang berguna untuk tulang, sebagaimana sinar infra merah mempunyai pengaruh yang membangkitkan kesadaran dan presentase cortison yang terkandung di dalam darah relatif makin tinggi pada waktu subuh dan kadarnya makin merendah secara relatif di petang hari.




MUI: Melarang Polwan Berjilbab, Polri Melanggar UUD 1945

IslamicSmartLeadership.blogspot.com
JAKARTA --  Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerima laporan dari salah seorang polisi wanita (polwan) yang dilarang mengenakan jilbab. Laporan tersebut pun, segera ditanggapi oleh MUI Pusat.
Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnaen, menilai larangan mengenakan berjilbab bagi polwan sangat bertolak belakang dengan Undang-Undang Dasar 19.

Menurutnya, pada pasal 29 UUD 1945, telah tersirat adanya jaminan kebebasan untuk menjalankan syariat sesuai kepercayaan agamanya. Dalam Islam, mengenakan jilbab bagi perempuan hukumnya wajib. 

“Seandainya Kepolisian Republik  Indonesia melarang pemakaian jilbab tersebut, tentu ini berarti POLRI  telah melanggar UUD 1945,” ujarnya Selasa (4/6).

Menurutnya, polisi bukanlah bagian dari militer lagi. Polisi telah keluar dari TNI dan membuat citra yang baru, yang lebih mendekatkan diri pada masyarakat yang dilindunginya. Polisi kini merupakan bagian dari pegawai negeri sipil bersenjata. Semoga semangat para polwan ini tetap terjaga keistiqomahannya untuk mengenakan jilbab sebagai kewajibannya sebagai seorang muslimah yang taat.

Utang Luar Negeri Untuk Kompensasi Kenaikan BBM ???

Senayan - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKS meminta fraksinya untuk mengritisi sumber pembiayaan kompensasi kenaikan BBM yang berasal dari utang luar negeri seperti yang diusulkan pemerintah. DPP menganggap itu hanya akan menambah masalah dan beban baru pada negara dan masyarakat.

"Pertama, kita minta agar dikritisi juga mengenai sumber pembiayaan program kompensasi kenaikan BBM yang diusulkan pemerintah akan berasal dari utang luar negeri. Kita keberatan kalau itu dilakukan, karena akan makin membebani masyarakat," ujar Wasekjen DPP PKS Mahfudz Siddiq di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (31/5).

Kedua, kata Mahfudz, PKS menilai BLSM (Bantuan Langsung Masyrakat Miskin) itu hanya "gula-gula" saja yang sifatnya temporer. Artinya, program ini tidak bisa dipastikan apakah bisa meningkatkan daya beli masyarakat atau membuka lapangan pekerjaan yang baru.

Ketiga, PKS beranggapan, penerima BLSM juga tidak mengcover seluruh segmen masyarakat. "Karena, yang paling berdampak oleh rencana kenaikan BBM itu kan kelompok buruh. Sementara mereka bukan termasuk kategori penerima," tukas Mahfudz.

Keempat, PKS melihat, kenaikan harga BBM punya dampak berkelanjutan. Yaitu, diawali oleh inflasi yang tinggi apalagi menjelang ramadhan, apalagi berbarengan dengan anak masuk sekolah, dan setelah itu idul fitri. Kondisi itu akan membuat beban masyarakat sangat berat. "Sementara, berapa yang bisa dicover oleh BLSM dan itu hanya sementara. Jadi, menurut saya, BLSM itu hanya sebatas gula-gula saja untuk meredam reaksi dari masyarakat atas kenaikan harga BBM," tegasnya.

Selasa, 04 Juni 2013

Mantan Produser TVOne Luncurkan Buku Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam

JAKARTA  – “Revolusi media tidak akan pernah terjadi di media arus utama. Mereka lebih sibuk dengan popularitas, rating dan uang. Revolusi media lahir dari pinggir, dan dilakukan oleh sekelompok orang yang dianggap tidak ada. Siapakah mereka? Mereka adalah jurnalis Muslim yang senantiasa membela Agama Kebenaran, penuh dedikasi dan keikhlasan meski dihadapkan pada banyak keterbatasan..”

Demikian kalimat pembuka dalam buku yang berjudul “Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam”  yang ditulis oleh Mohamad Fadhilah Zein, diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar.

Belum lama ini, buku yang mendapat kata pengantar dari Wartawan Senior Herry Mohammad (Redaktur Pelaksana Majalah Gatra) ini, diluncurkan bersama sejumlah jurnalis muslim yang tergabung dalam Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Warung Teko, Poins Square, Lebak Bulus, Jakarta.

Fadhil – begitu ia disapa – adalah seorang Jurnalis televise yang paham betul tentang jagad dunia jurnalisme. Ia merasa prihatin dengan media massa di Indonesia, sengaja atau tidak, telah bertindak zalim terhadap umat Islam di republic ini. Realitas ini mendorongnya untuk menghimpun fakta dan bukti kezaliman yang dilakukan media terhadap umat Islam.

Buku yang ditulis Fadhil, lelaki kelahiran 1 April 1979 ini, menjadi pengingat bagi para jurnalis muslim agar memahami peran dan tugasnya, dan selanjutnya bekerja sesuai dengan rambu-rambu syar’i. Jika tidak, mereka akan menjadi bagian dari scenario besar yang hendak memadamkan cahaya Islam di bumi pertiwi ini, secara sadar maupun tidak.

Terdapat lima bab yang dibahas buku ini. 
Bab I membahas tentang Kebebasan Pers Pasca Tumbangnya Orde Baru. 
Bab II: Kezaliman Media Massa Dunia Terhadap Umat Islam, 
Bab III: Jurnalis dan Harga Sebuah Idealisme, 
Bab IV: Saatnya Umat Islam Melawat Lewat Media Massa, 
Bab V: Resolusi Umat islam di Bidang Komunikasi.

Yang menarik dalam buku ini dalam mengkritisi setiap kezaliman media  terhadap umat Islam, mulai dari pemberitaan terorisme, pemberitaan miring soal Front Pembela Islam, pemberitaan Sunni-Syiah, pemberitaan kerusuhan Ambon dan Poso, pemberitaan HKBP Ciketing Bekasi dan Gereja Yasmin.
Kezaliman media massa dunia terhadap umat islam juga disinggung dalam buku ini, mulai dari kezaliman media memberitakan Perang Irak, kezaliman media dalam pemberitaan 11 September 2001, dan sebagainya.

Fadhil menegaskan, meskipun umat islam mayoritas di negeri ini, namun tidak memiliki kekuatan untuk membangun opini public yang positif tentang dirinya sendiri. Jika kita telaah dan telusuri, begitu banyak pemberitaan yang menyudutkan Islam.

Saat menulis buku ini, Fadhil masih bekerja sebagai News Produser TVOne yang selama ini zalim terhadap umat islam, terutama pemberitaan seputar terorisme. Perang batin yang dirasakan Fadhil atas kebijakan redaksi, tempat ia bekerja sebelumnya, menjatuhkan pilihannya untuk hengkang  dari TV One. Karena sudah tidak ada lagi kecocokan.

Dalam bukunya, Fadhil menulis: "Pada level global, beberapa jurnalis kawakan pun memilih keluar dari tempatnya bekerja, karena bertentangan dengan hati nurani, saat kepentingan politik praktis dan tugas jurnalistik yang mengedepankan kebenaran, bertabrakan."

Ia memberi contoh, Helene Thomas dari Heart Newspaper, mengundurkan diri dari posisinya sebagai jurnalis senior di Gedung Putih. Dia dikecam oleh Pemerintah George W. Bush karena mengkritik Israel dan kebijakan politik luar negeri AS yang mengivansi Irak dan Afghanistan.

Adapula Yvonne Ridley, jurnalis Inggris yang pernah disekap Taliban, saat melakukan tugas jurnalistik pada tahun 2002. Dia kemudian masuk Islam dan melakukan kampanye Islam ke seluruh dunia. Bahkan bersama sejumlah koleganya, jurnalis muslimah yang kini berjilbab ini membangun Islamic Channel. Sepertinya Fadhilah Zein terinspirasi dengan jurnalis Barat yang kini sadar dengan kezaliman media massa dunia terhadap umat islam. Buku yang ditulisnya adalah sebuah ilmu, gagasan dan pengalaman yang sangat berharga bagi jurnalis muslim dimanapun berada.

Polwan Dilarang Berhijab ?

Banyaknya anggota Korps Polisi Wanita (Polwan) di Tanah Air, khususnya di lingkup Polda Jawa Tengah yang ingin berseragam sambil memakai hijab.
Sayangnya, keinginan para polwan tersebut terkendala dengan belum adanya peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang mengatur tentang penggunakan seragam Polwan berjilbab di luar Kepolisian Daerah (Polda) Nangroe Aceh Darussalam (NAD).
''Sudah lebih dari tiga tahun hati nurani saya menjerit karena sepulang dari menunaikan ibadah haji, saya berkeinginan besar untuk mengenakan seragam polri dengan berhijab,'' kata seorang perwira polwan yang pernah bertugas di jajaran Polda Jawa Tengah kepada Salah satu Ustaz Wahfiudin yang disampaikan kepada Beberapa media, termasuk pers ISL Media  Selasa (4/6).
Ustaz Wahfiudin mengungkapkan banyak sekali polwan yang menyampaikan curahkan hatinya tentang keinginannya memperoleh izin memakai hijab. Bahkan, para polwan yang bertugas di Polda Jawa Tengah sudah pernah membuat surat kepada Kapolri agar mendapat izin berseragam Polri sambil memakai hijab, tapi tidak dikabulkan.
Justru keluar surat edaran Kapolri yang menegaskan bahwa yang boleh berseragam Polri dengan mengenakan hijab hanya polwan yang bertugas di Polda NAD. 
''Ini sudah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) kami sebagai wanita muslimah yang ingin melaksanakan perintah Allah SWT. Bagi saya yang terpenting adalah mendapat ijin mengenakan jilbab, karena sekarang ketika saya berbaju dinas tanpa mengenakan jilbab saya risih dengan terlihat aurat kepala, lengan dan kaki,'' ujar perwira polwan tersebut kepada Ustaz Wahfiudin. 
Masih menurut pengakuan seorang perwira polwan kepada Ustaz Wahfiudin, ada niatan perwira polwan tersebut ingin mengajukan pensiun dini jika tidak diizinkan berhijab. 
''Suara hati perwira Polwan tersebut juga telah disampaikan ke MUI, para ulama dan DPR RI,'' kata Ustaz Wahfiudin. 

Redaktur : Gilang Ramadhan

Cinta Karena Allah, Pilar Kekuatan ISLAM Part. 2




Ikhwah sekalian, Tiga hal yang menjadi buah dari ukhuwah adalah. Ukhuwwah ini adalah bagian dari keimanan kita dan karena keimanan itu kita menjadi saling merekat. Ukhuwwah adalah senjata qiyadah, dalam mencapai tujuan, dalam merealisasi target. Ukhuwwah juga adalah senjata paling ampuh, untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.


Dalam perselisihan yang terjadi antara sahabat ra adalah perselisihan yang memicu sikap saling bunuh di antara mereka, karena masalah ijtihad. Ketika kita mengkaji masalah mereka, kita tidak lebih dominan melihat apa yang mereka perselisihkan, tetapi harus bisa melihat bagaimana caranya mereka keluar dari perselisihan itu, dan bagaimana perselisihan itu tidak merusak kasih sayang di antara mereka. Kita harus melihat kendala apa yang muncul jika ada peristiwa yang kemudian merusak ukhuwwah.

Saya ingin contohkan masalah yang dialami Ali bin Abi Thalib ra. Orang yang sudah pasti kemusliman dan keimanannya. Sudah meyakinkan kapasitas ilmu, akal, ruhani, ibadahnya. Tak ada juga yang meragukan keberanian dan kekuatannya. Akan tetapi sebab musabab yang memunculkan perang shiffin antara kelompok Ali dan Mu’awiyah dipicu oleh informasi dusta yang terus menerus disampaikan oleh kelompok Syiah, sehingga pandangan Ali ra berubah. Syiah adalah kelompok yang mengaku cinta ahlul bait, tapi sebenarnya mereka tidak mencintai seluruh ahlul bait. Ali ra telah dipengaruhi oleh orang-orang syiah. Itu berarti, barisan pengikut Ali tidak lagi memiliki kecintaan terhadap sesama orang beriman di antara mereka.Ali ra terus menerus diprovokasi, dipancing dan dikatakan ”Ali adalah pemberani, tapi tak pandai berperang.”

Ikhwah sekalian, Inti dari tema yang kita bicarakan ini, adalah untuk kalian dan kalian bawa kepada orang-orang yang kalian bina dan kalian pimpin. Kita harus bisa menyampaikan kepada mereka tentang ukhuwwah ini, agar kita bisa menghaluskan yang kasar, dan kita bisa menghilangkan kendala-kendala yang menghalangi jalan kita dalam menghadapi tantangan besar. Kita harus menghadapinya dengan barisan yang saling cinta, yang kuat karena Allah, cinta sejati, bukan sekedar kata kata.

Kita harus mengagungkan nikmat ukhuwah ini ini. Dzauq ukhuwwah (cita rasa ukhuwah), akan menjadi sesuatu yang penting dan sangat dipelihara oleh orang yang sudah merasakannya. Ukhuwwah yang lahir bukan karena satu pendapat, karena ada orang yang menganggap bila ada orang yang beda pendapat denganmu maka dia bukan saudaramu. Ini sangat keliru. Orang yang tidak merasakan dzauq ukhuwwah tidak akan merasakan ukhuwwah itu penting. Tapi kalau yang merasakan dzauq ia akan berusaha memelihara hubungan dengan saudaranya, tak akan menyakiti saudaranya walaupun satu kata.

Peliharalah kalau kita sudah merasakan dzauq ukhuwah. Cari kalau kita belum merasakan dzauq ukhuwwah. Kita cinta kpada Allah, cinta Rasulullah, cinta kaum beriman dan wala kepada mereka. Kita tidak mencintai orang lain karena diri orang itu, tapi kita cinta karena Allah swt. Cinta karena Allah, adalah cara yang paling penting agar kita bisa mensukseskan dakwah ini. Imam Syahid jika bertemu dengan para Ikhwan dalam berbagai pertemuan, kerap menampakkan bagaimana kekagumannya dengan ukhuwwah yang ada di antara ikhwah. Ketika pimpinan melihat bagaimana para ikhwah sangat tinggi ukhuwwahnya, ia mengungkapkan kekaguman itu, ”saya sangat bangga dengan ruh yang bisa menghimpun ikhwan. Karena ukhuwwah ini tidak ada dalam kelompok lain kecuali jamaah Ikhwan.” Imam Al Banna juga mengatakan, bahwa al akh ash shadiq (al akh sejati), adalah orang yang melihat saudaranya, lebih utama dari dirinya. Dirinya dihibahkan untuk berkhidmah pada saudaranya. Al Akh adalah orang yang menanggung beban saudaranya. Seorang Ikhwan bisa saja berjalan bersama orang lain dan keluar dari shaf, tapi ia takkan menemukan hal yang sama sebagaimana ia dapati bersama ikhwan. Kita tidak mengatakan, orang yang keluar dari jamaah ini kafir, tapi ia telah meninggalkan kebaikan besar.


Ketika dalam jamaah ini, seseorang akan merasa hidupnya bernilai, punya tujuan, punya agenda, punya teman teman yang bisa saling mendukung di jalan Allah, yang saling membela. Ia merasakan hidupnya penuh arti. Ketika Hasan bin Ali pernah ingin mengalah dan menyepakati perdamaian dengan Mu’awiyah, ia bersama 12 ribu pasukan yang siap berperang. Tapi kelompok Syiah tidakingin peperangan tidak terjadi. Mereka tidak ingin Hasan bin Ali mengalah. Ketika itulah Hasan bin Ali mengatakan, ”Apa yang kalian benci dalam berjamaah, lebih baik daripada apa yang kalian sukai dalam perpecahan. Karena Tangan Allah bersama jamaah. Perpecahan adalah saudara kufur, kesatuan adalah saudara 


Ikhwah sekalian, Sebelum bicara tentang sarana mewujudkan ukhuwwah, kita juga harus menegaskan bagaimana peran pemimpin dalam menumbuhkan ukhuwwah ini. Kita berqudwah pada Rasulullah saw, di segala hal. Kita tidak berbeda dengan cara Rasulullah. Ketika kita katakan Ar Rasul qudwatuna, kita harus jujur dalam ungkapan ini. Bagaimana cinta sahabat pada Rasulullah saw. Kita semua tahu apa dan bagaimana kecintaan mereka. Sahabat sangat cinta pada pimpinan mereka Rasullullah saw, sangat luar biasa.


Rasul bahkan pernah menguji kecintaan umar. ”Bagaimana kadar cintamu padaku ya Umar?” Sebelum ini, kita sudah menegaskan bahwa cinta di antara anggota akan menolong pimpinan dalam mencapai tujuan yang diinginkanya. Dan dalam hadits ini, Rasulullah menguji kecintaan Umar bin Khattab ra. Umar mengatakan, ”Saya cinta padamu tapi tidak lebih dari cinta pada diri saya.” Rasul memandang Umar dengan pandangan nubuwwah, dan dikatakannya, ”Tidak ya Umar, cinta mu masih kurang....”
Perkataan itu sangat mempengaruhi Umar, hingga Umar kemudian mengatakan, 

”Kecintaanku kepadamu, melebihi kecintaanku pada diriku sendiri.” Setelah itu, Rasul mengatakan, ”Sekarang ya Umar, engkau telah menyempurnakan tingkatan keimanan”.

Ada tiga hal yang harus kita miliki, yakni menghargai, menghormati, dan
mempercayai pimpinan. Ketika Imam Al Banna berbicara tentang tsiqah dengan qiyadah, ia menyampaikan bahwa qiyadah secara pribadi seharusnya memiliki karakter sebagai ustadz dalam hal keilmuan, syaikh dalm hubungan keruhanian, bapak atau orang tua dalam hubungan persaudaraan, dan pemimpin dalam hal organisasi. Kemudian Al Banna mengatakan, bahwa hubungan antara pimpinan kepada anggota, dan sebaliknya, harus dengan penghormatan, penghargaan, dan percaya sehingga tiga hal itu yang menjadi
rukun dalam keberhasilan dakwah ini. Tidak ada jamaah tanpa qiyadah. Ini harus menjadi bekal dalam diri para ikhwah. Inilah yang diajarkan dalam Al Ikhwan Al Muslimun. Kalian adalah orang yang bertanggung jawab dalam kaderisasi, misi kalian adalah sangat penting. Kalian harus bisa memiliki sikap-sikap seperti ini.

Ikhwah sekalian, Ada beberapa sarana mewujudkan ukhuwwah:
Pertama, lakukan segala sesuatu dengan penuh ikhlas. Keikhlasan dalam kecintaan karena Allah. Cinta karena Allah, bukan karena yang lain, bukan karena manfaat, bukan karena harta benda. Hal ini sudah panjang lebar dijelaskan sebelum ini. Tapi saya ingin menjelaskan satu hal penting namun sering dilupakan oleh para ikhwah dalam hal keikhlasan ini, yakni dalam hal membaca wirdu rabithah. Setiap kita hafal wirid ini. Tapi apakah kita paham makna wird rabithah. 

Imam Al Banna, menyampaikan semua yang dilakukannnya, adalah bagian dari manhaj yang saling menyempurnakan. Wirid rabithah adalah wasilah terbesar dalam menumbuhkan ukhuwwah fillah. Maka, sebaiknya kita lakukan dengan resapan makna dan perenungan yang dalam.

Di awal catatannya tentang wirdu rabithah, Imam al Banna mengatakan, agar kita menghadirkan wajah para ikhwan dari yang kita kenal, menghadirkan hubungan batin dengan mereka, bahkan dengan menghadirkan ikhwan di dunia ini yang tidak kita kenal. Kalau kita lakukan hal ini setiap hari, dengan ikhlash, perhatikanlah bagimana cinta ini bisa terus berkembang dan tumbuh sampai kita bisa ada kebaikan pada jamaah dan masyarakat, dan bagi kemanusiaan seluruhnya. Lakukan seluruhnya dengan ikhlash, amal dilakukan hanya dengan keikhlasan.

Dalam hadits riwayat Bukhari, disebutkan ada seorang perempuan pezina yang
menolong memberi minum anjing yang kehausan, lalu kemudian ia masuk surga. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, ia masuk surga karena ia melakukannya, dengan ikhlash dan iman. Itulah yang menyebabkannya masuk surga. Sahabat Rasulullah ada yang meminum khamar, kemudian dicambuk, lalu minum lagi, dicambuk lagi, minum lagi, dicambuk lagi. Seorang sahabat mengatakan, kamu terlaknat karena mengulangi minum khamar. Tapi Rasulullah mengatakan, ”La tal’anhu innahu yuhibbullah wa Rasulullah”. Jangan cerca dia karena sesungguhnya dia cinta kepada Allah dan Rasulullah.

Lakukanlah amal dengan ikhlash, agar Allah memberkahi dan memberi pahala yang berlebih. Inilah sarana paling baik dalam menanamkan ukhuwwah fillah. Bacalah doa rabithah ini dengan ikhlash. Karena biasanya orang sudah melakukan rutinitas ibadah, ia lupa dengan ruhnya, tak ada keikhlasannya. Sebagaimana ada banyak orang yang shalat, tapi ia tetap melakukan kemaksiatan karena lupa dengan substansi dan keikhlasan dalam melakukan shalat.

Imam Hasan Al Banna memisalkan perbedaan iman yang dimiliki para ikhwan
dengan yang lainnya adalah, iman yang dimiliki ikhwan adalah iman yang hidup yang aktif dan sadar. Sedangkan keimanan orang lain banyak yang keimanannya tidur dan pasif, sehingga perlu ada yang membangunkannya terlebih dahulu.

Kedua, Tanashuh wa tawashi. Saling menasihati dan saling mewasiati. Itu sebabnya para sahabat menutup majelisnya dengan membaca surat Al Ashr. Kita sering melakukan itu tapi kita lupa inti artinya. Ini adalah janji antara ikhwah, untuk tawashau bil haq tawashau bi shabr. Sabar untuk sedikitnya orang, banyaknya musuh, jalan yang panjang.
Ini adalah janji, bukan sekedar kata-kata. Nashihah, Musharahah (keterusterangan), mukasyafah (blak-blakan) itu dengan syarat dilakukan dengan adabnya. Semua harus dilakukan dengan etikanya. Baik antar pribadi apalagi dalam sebuah jaamah. Semuanya punya etika, punya koridor, kita adalah jamaah kita punya saluran untuk melakukan nashihah. Nasihat bukanlah kalimat yang disampaikan di sembarang tempat, di manamana.
Ingat, kalimat yang dikeluarkan itu sangat berbahaya. Para penyair menggambarkan ketika kerajaan Bani Umayah hampir hancur dengan ungkapan ”Awal hancurnya adalah kata-kata yang membakar.”

Seorang Ikhwah tidak bicara apapun yang dia pahami. Tapi pembicaraannya, harus dengan cara yang benar, dengan memikirkan akibatnya. Ada kalimat yang bisa mengakibatkan perang, ada perkataan yang bisa menyebabkan pembunuhan, ada yang bisa menyebabkan kehancuran. Ikhwan punya aturan yang menjadikan setiap orang dalam barisan kita bisa menyampaikan pandangannya, apapun yakni dalam usrah. Tapi kita harus juga meyakini bahwa forum usrah adalah amanah. Tidak boleh diumbar keluar pembicaran tentang kekurangan, keluar. Ini adalah keluarga kita, ini adalah masalah kita.
Ingat bahwa usrah ini adalah amanah.

Ketiga, tasamuh wa tarahum. Saling toleran, tetap saling kasih sayang
Ahmad bin Hambal, 90 persen kebaikan akhlak adalah dengan pura pura mengabaikan informasi yang buruk. Kalau kita tidak bisa memberi udzur, kita cari udzur lain untuk saudara kita. Jangan kehabisan udzur untuk saudara kita. Ini adalah manhaj Islam. Kita juga harus mengerti bahwa jalan pikiran seseorang berbeda-beda. Karena itu, dalam jamaah Ikhwan, menentukan pendapat mana yang harus didukung ada pada qiyadah.

Imam Al Banna sejak sejumlah Ikhwah berbaiat kepadanya sudah bertanya, ”Apakah kalian siap mengalah dalam mengikuti masalah ijtihadiyah kepada para qiyadah?” Hak pemimpin adalah menentukan mana dan siapa yang harus diikuti. Dalam majlis syuro setiap orang bisa menyampaikan apa saja, bebas. Tapi kalau syuro sudah menetapkan qarar tidak ada lagi hak pribadi untuk menyampaikan pendapat. Kita harus ridha dengannya.

Keempat, memahami fiqhul ukhuwah. Sebagaimana dijelaskan.

Kelima, pahami fiqih khilaf.
Ada banyak perbedaan. Jika perbedaan dalam masalah fiqih, caranya adalah dengan melihat mana yang paling kuat secara dalil menurut kita. Tapi ada khilaf yang sifatnya duniawi, khilaf siyasi. Khilaf ini, seperti perselisihan yang terjadi di antara para sahabat, setiap mereka berijtihad, mereka ingin menolong Islam dan yakin bahwa pendapat mereka paling benar. Mereka pernah saling keras, tapi kemudian mereka menyesal, dan diriwayatkan Aisyah menangis hingga basah hijabnya.

Keenam, dalami penguasaan fiqih awlawiyat marhalah. Siapa yang menentukan kebijakan? Perselisihan yang terjadi, dalam sejarah dakwah Rasulullah saw ketika perjanjian Hudaibhiyah adalah contoh paling baik bagi kita. Rasululllah sebagai pimpinan memiliki pandangan yang sangat jauh, sedangkan anggotanya ketika itu ada yang memiliki pandangannya pendek. Termasuk Umar bin Khattab. Umar bin Khattab ra, memiliki pandangan tajam dalam berbagai pendapatnya, karena bersesuaian dengan ayat Al Quran (lihat foot note).

Tapi ketika itu karena ditentang oleh Umar ra, Rasul mengatakan, ”Saya adalah Rasulullah saw, Allah tidak akan menyia nyiakan sesuatu. Umar mendebat, bukankah engkau katakan kita akan tawaf? Tapi bukan kah saya tidak tahun ini. Umar bertaubat. Masalah ini wahai ikhwah memerlukan ilmu, dakwah ini adalah ilmu. Jika kita tidak mempunyai ilmu, bisa jadi orang lain lebih jahil dari kalain. Naqib harus terus menerus mengkaji ilmu. Agar bisa memberi, mengenyangkan. Jika pembekalan itu terhenti, kita tidak bisa memberi.

Ketujuh, Irtiqa bi mustawal hiwar. Melihat memiliki seni yang baik dalam dialog. Sebagaimana orang-orang shalih bila berdialog, berdiskusi, bahkan beradu argumen mereka mengatakan, ”Tidaklah aku berdebat dengan seseorang kecuali aku ingin agar kebenaran itu ada pada pihak orang tersebut. Dan aku berdoa agar Allah swt meluruskan dan menajamkan pandangannya dalam masalah itu.” Imam Syafii juga terkenal dengan
prinsipnya, ”Ra’yi shawab yahtamil khata wa rayuhul khata’ yahtamil shawab.”
Pendapat saya benar tapi mungkin salah. Pendapat dia salah tapi mungkin juga benar.

Sikap taashub terhadap pendapat bukan ajaran Islam dan bukan etika ikhwan.
Kedelapan, Do’a untuk qiyadah. Kita seluruhnya bisa saja menjadi qiyadah. Kita punya kedudukan yang sama, karena qiyadah bukan faktor keturunan melainkan diukur dari apa yang dilakukan seseorang ini pada dakwah, pada pemikirannya, pada komitmennya, pada kontribusinya. Kita bila menghormati qiyadah dan meletakkannya pada tempatnya, itu artinya kita menghormati diri sendiri.

Ikhwah sekalian, Ingat bahwa buah ukhuwwah, akan kembali pada diri kita sendiri, pada jamaah, pada masyarakat, dan pada lingkup yang luas dari itu. Jika kita saling mencinta karena Allah, dan kita ikhlash, mudah mudahan itu menjadi bekal kita bisa menggenggam kemenangan dengan dakwah ini.

Redaktur : Gilang Ramadhan


Cinta Karena Allah, Pilar Kekuatan ISLAM Part. 1


Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ala Rasulillah wa alaa aalihi wa shahbihi wa man waa laah. Wa ba’du.

Saya sangat senang bertemu dengan antum sebagai tokoh dakwah, yang memimpin aktifitas pembinaan, dan merupakan ujung tombak pelaksanaan tarbiyah, yang mengkader dan membentuk karakter seorang Muslim. Apa yang antum lakukan adalah asset besar dalam kebangkitan Islam di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Apa yang antum lakukan adalah sarana paling efektif untuk merealisir tujuan dakwah kita dalam membangun umat ini. Perlu antum ketahui, bahwa perang sejati yang kita hadapi hari ini medannya adalah jiwa. Dan karenanya, gerak yang kita lakukan adalah diawali dengan membentuk dan membina pribadi seseorang. Yang kita hadapi adalah, bagaimana kita bisa mencetak kader, di samping banyak menghadapi ragam problematika. 


Sementara kita tidak mungkin bisa menghadapi permasalahan besar itu, tanpa kita berhasil membentuk karakter Islam dari orang-orang yang kita bina. Sebab itulah, medan pertama dalam kebangkitan umat yang harus kita tempuh adalah medan pembinaan, baik secara akidah, akhlak, pemikiran, ruhani, fisik, ekonomi, seni, agar kelak muncul orang-orang yang mampu menghadapi tantangan besar yang dihadapi umat Islam.


Ikhwah sekalian, Jadi, medan utama kita dalam kebangkitan ini adalah kaderisasi. Dan ruang lingkupnya adalah bagaimana kita membentuk orang agar bisa menanggung misi kebangkitan ini secara komprehensif. Kebangkitan ini hanya bisa dilakukan dengan suatu barisan yang utuh, terdiri dari orang-orang yang saling menguatkan, yang percaya dengan pemimpinnya, barisan yang anti terhadap perpecahan, barisan yang mampu menghadapi tantangan, barisan yang mampu memimpin umat Islam, dan terus melakukan perubahan demi perubahan. Perubahan yang kita inginkan, yamg paling pertama adalah bagaimana kita bisa memiliki shaff dengan karakter seperti itu.


Dengan kata lain, shaff yang mampu menghadapi setiap masalah dengan ruh ukhuwwah, rasa cinta, rasa persaudaraan, yang tinggi. Di sinlah kita membutuhkan pemahaman tentang fiqh ukhuwwah.

Bisa saja dalam melewati ragam problematika di jalan ini, ragam proyek Islam yang dilakukan, baik di bidang tarbiyah, politik, ekonomi, di manapun, akan mempengaruhi beberapa sikap lupa terhadap masalah prinsip, masalah yang mendasar terkait dengan keterikatan seorang anggota dengan keterikatannya terhadap asasi, terkait ikatannya dengan barisan dakwah.Tapi kita tetap  membutuhkan barisan yang kuat, artinya kuat karena ruh ukhuwwah. Ikatan ukhuwah yang terjalin di atas akal dan hati, rasio dan emosi. Bukan sekedar ikatan artifisial, bukan hanya keterikatan fisik atau bahkan sekedar keanggotaan partai atau jamaah saja. Keterikatan kita dalam barisan ini, sekali lagi adalah ikatan keimanan yang ada di atas akal dan hati kita.



Ikhwah rahimakumullah, Persaudaraan dan ukhuwwah yang kita wujudkan dalam barisan ini, adalah persaudaraan yang menembus ruang waktu hidup kita. Karena persaudaraan ini akan kita bawa hingga ke akhirat. Dan karenanya, persaudaraan kita ini adalah persaudaraan karena Allah swt. Bukan karena yang lainnya. Bangunan jamaah yang memiliki karakter persaudaraan seperti inilah, yang akan mampu menghadapi serangan apapun dari luarnya.Bangunan ukhuwwah yang kokoh, yang mampu menghadapi ragam tantangan apapun.

Tantangan yang akan kita hadapi, meskipun besar, akan menjadi ringan bila kita hadapi dengan ukhuwwah. Justru tatkala kita memiliki ukhuwwah yang baik, sebuah tantangan yang diarahkan kepada kita akan memperkuat kita sendiri. Sebagaimana virus tertentu bisa diberikan dan memperkuat tubuh. Sebagaimana juga, bila tubuh kuat, maka tubuh mampu menolak virus dari luar. Sedangkan bila tubuh ini lemah, apalagi ia mengalami penyakit yang mengilangkan imunitas tubuh, maka penyakit dan virus yang sedikit sekalipun akan bisa melumpuhkannya.

Sekali lagi, ikhwah sekalian. Kekuatan kita adalah karena ukhuwwah yang kita miliki. Sebagaimana Imam Hasan Al Banna rahimahullah mengatakan, ”Asasu da’watina al hubbu fillah wa tarahum.” Landasan dakwah kita adalah cinta karena Allah dan kasih sayang. Cinta karena Allah adalah naungan tempat kita semua bernaung. Kata-kata al hubbu fillah (cinta karena Allah) bukan sekedar kata-kata, bukan hanya ucapan, tidak sekedar syiar simbol yang digaungkan oleh kita.


Tapi cinta karena Allah, persaudaraan karena Allah, merupakan tuntutan yang harus ditunaikan konsekwensinya. Siapapun yang mengatakannya, harus tahu tuntutan konsekwensi kata-kata itu. Filosofi persaudaraan karena Allah itu sesungguhnya merupakan ikatan yang sudah ada di langit sebelum kita dipertemukan di bumi ini.

Ikhwah rahimakumullah, Allah swt menyaksikan apa yang kita katakan, apa yang kita ucapkan. Bila ada kata-kata yang keluar dari pernyataan kita, bila ada yang keluar dari mulut kita, Allah menyaksikan apakah kita jujur atau tidak. Setiap segala sesuatu itu ada hakikatnya, dan hakikat harus bisa diterjemahkan dalam kenyataan. Sayyid Quthb rahimahullah mengatakan, “Al ukhuwah fillah, laa yadzuuquha illa man dzaaqaha.” Ukhuwwah di jalan Allah, tak bisa dirasakan kenikmatannya kecuali orang yang telah merasakan nikmatnya.

Rasulullah Muhammad saw, menjadikan Al Quran ini hidup dalam hati setiap muslim. Dia mencetak bagaimana para sahabatnya hidup dalam suasana saling cinta karena Allah swt. Mereka bila mengucapkan sesuatu, maka kalimat itu harus terwujud dalam realitas. Lihatlah bagaimana para sahabat berinteraksi sesama mereka dengan cinta dan ukhuwwah. Meskipun ada perselisihan di antara mereka, tapi perselisihan itu tidak merusak kasih sayang yang ada di antara mereka.


Begitulah, Allah sudah menanamkan kasih sayang dalam jiwa mereka. Sehingga sesungguhnya yang menjadi masalah bukan pada masalah yang diperselisihkan, tapi pada kedengkian yang muncul dan ada dalam jiwa orang-orang yang berselisih itu. Sedangkan di bawah naungan cinta, kita bukan tidak akan pernah berselisih, melainkan kita akan mengerti bagaimana kita ketika berselisih, bagaimana jika kita berdiskusi, bagaimana jika kita harus beradu argumentasi, dan sebagaimananya. Islam mengajarkan kita untuk menjadikan cinta karena Allah yang mengikat dalam setiap perbuatan.


Sesungguhnya, sikap paling buruk adalah bila kita menguliti pakaian saudara kita. Karena di sana kita berarti membuka dan membongkar aib saudara kita. Bahkan Allah swt mengistilahkan orang yang mengeluarkan kata-kata menyakiti terhadap saudaranya, dalam ghibah, seperti memakan bangkai saudaranya yang sudah mati. Istilah ”memakan bangkai saudara yang sudah mati”, itu lebih menyakitkan dan lebih ganas ketimbang memakan saudara yang masih hidup. Karena di saat saudara kita mati, dan tidak biasa melakukan apa-apa, kita masih melakukan tindakan yang menyakitinya.

Rasulullah saw pun menyebutkan ada karakter jahiliyah dalam diri sahabatnya. Ketika salah seorang sahabat memanggil Bilal bin Rabah dengan sebutan si anak budak hitam. Rasulullah saw marah dan mengingatkan pelakunya dengan mengatakan, ”innaka umru'un fika jahiliyyah” yang artinya engkau adalah seorang Muslim yang dalam dirimu masih ada sisa-sisa jahiliyah.

Ukhuwwah karena Allah adalah kenikmatan yang hadir karena keimanan. Ukhuwwah akan terhalang bila tanpa keimanan. Sama dengan hadits yang menceritakan bahwa seorang mukmin tidak akan berzina, ketika dia beriman. Seorang mukmin tidak akan meminum khamar dalam kondisi dia beriman. Demikian juga, seorang mukmin takkan menyakiti saudaranya dan takkan menodai persaudaraannya sesama mukmin bila dia beriman.


Seperti itulah ukhuwwah. Ketika seseorang telah bicara tentang keburukan saudaranya, berarti keimanannya telah rusak. Dan berarti ia berdusta ketika kita mengatakan, engkau adalah saudaraku di jalan Allah. Karena kata-kata itu harus ada konsekwensinya. Mungkin saja karena kita tidak tahu apa arti ukhuwwah, apa fiqih ukhuwwah. Padahal noda yang sedikit bisa merusak air yang banyak. Sebab nila setitik rusak susu sebelanga. Kata-kata yang sedikit, bisa saja akibatnya sangat membahayakan dan menghancurkan keseluruhan yang baik.


Ikhwah sekalian, Sebagai Muslim, ketika ingin mengatakan sesuatu kita harus menghadirkan niat, apakah Allah swt ridha dengan amal kita, dengan kata-kata kita, pekerjaan kita. Ini harus dilakukan agar kita bisa mengontrol kata-kata yang kita keluarkan. Sebagaimana ucapan seorang sahabat yang menyebutkan, ”Sejak aku baiat kepada Rasulullah tak pernah keluar dari mulutku kecuali, setiap aku ingin bicara tertahan lebih dahulu, dan aku pertimbangkan apa akibatnya.” Itulah yang terjadi dalam sejarah kaum muslimin. Ketika ada orang-orang munafiqin yang memindahkan isu-isu negatif dengan mulut mereka, Allah swt menyebutkan orang munafiqin itu menganggap apa yang mereka katakan itu ringan saja. Padahal kata-kata mereka itu sangat berat dosanya di sisi Allah swt.

Ketika kita ingin mengatakan satu kata, kita harus mengevaluasi kata itu apakah perkataan itu membuat murka Allah, atau diridhai Allah. Bukankah tujuan kita dalam hidup ini, adalah bagaimana supaya Allah ridha. Jika kita mendapat ridha Allah, berarti kita menjadi orang yang menang. Apa artinya kita dalam barisan dakwah tapi Allah tidak ridha dan berarti kita bukanlah orang yang menang. Ukhuwwah karena Allah tidak bisa ditunjukkan sekedar kita menunjukkan kartu nama anggota partai atau jamaah tertentu.



Tapi harus dibuktikan dengan amal, diiringi keikhlasan, yang tidak menodai ukhuwwah itu sendiri. Ikhwah sekalian, Ada penafsiran yang menarik tentang firman Allah swt, ”Law anfaqta maa fil ardhi jami’an maa allafta bina qulubihim.. ” Jika engkau infaqkan semua yang ada di bumi ini, takkan mampu mengikat hati manusia. Karena sesungguhnya, Allah swt menanamkan dalam diri Rasulullah dan kaum mukminin, sehingga Allah lah yang mengikat hati di antra mereka. Ikatan ini tidak bisa diwujudkan oleh para pakar, orang pintar di zaman jahilihah, bagaimana bisa menghimpun hati orang orang Arab di zaman itu.

Menghimpun hati tak bisa dilakukan kecuali oleh Allah swt. Karena Allah yang telah meletakkan dunia dan seisinya dalam genggaman Nya, lalu Dia-lah yang menggabungkan hati dari makhluk-Nya itu ke seluruh kekuasaan-Nya. Tidak mungkin hati orang disatukan dengan harta. Harta tidak mungkin menjadi simpati bagi hati, harta hanya bisa untuk memperbanyak uang yang mungkin letaknya dalam kantung. Harta tidak bisa mengikat hati ini, kecuali Allah swt saja.

Kecintaan dan kasih sayang antara orang mukmin, selain merupakan karunia Allah swt, juga merupakan modal yang sangat penting sehingga Rasulullah bisa memimpin mereka dalam misi dakwah. Andai tanpa cinta dalam hati sahabat, mustahil orang-orang Arab bisa dipimpin untuk bisa ikut menyiarkan dakwah Islam. Kecintaan dalam hati para anggota atau kader dakwah adalah adalah aset utama dalam dakwah ini. Sebagaimana keberhasilan dakwah Rasulullah, sebab utamanya adalah bagaimana kecintaan dan persaudaraan karena Allah yang ada di antara mereka. Kalau hati sudah saling cinta, orang akan mudah dipimpin. Kalau hati saling benci, pemimpin akan gagal, meskipun hartanya banyak dan skill manajemennya baik sekalipun.



Orang bahkan tidak mau bila ditawari surga, bila cara menyampaikannya tidak dengan rasa cinta. Ini adalah fitrah Allah yang tidak berubah. Karena itu, memimpin manusia, itu punya kunci. Siapapun yang mempunyai kunci itu, bisa memimpin manusia, tahu rahasianya, dan sekaligus tahu bagaimana memimpin orang tersebut. Allah menjadikan hati yang lembut dan ukhuwwah antara sahabat sebagai sebab kemenangan dakwah.

Ruh dan jiwa ini, sebagaimana dikatakan dalam Rasulullah saw, laksana pasukan yang dikerahkan, ”al arwaahu junuddun mujannadah. maa ta’arafa minha italaf wa ma tanafara minha ikhtalaf.” Ruh-ruh itu seperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang saling kenal akan mudah akrab dan yang tidak dikenal akan cenderung saling menjauh“ (HR. Muslim). Ada sebuah kisah tentang seorang perempuan muhajirah yang memiliki karakter suka mengeluarkan kata-kata lucu, menghibur. Perempuan ini ketika tiba di Madinah bertemu dengan wanita yang sama karakternya, yakni suka melucu dan menghibur. Di sanalah dia tinggal. Dia tidak mengenal orang itu, tapi jiwanya tergiring untuk bertemu dengan orang yang seperti itu. Ketika mendengar hal itu, Aisyah ra mengatakan, ”Benarlah kekasihku Rasulullah saw, ruh ruh itu seperti pasukan yang dikerahkan... ”

Percayalah nilai ukhuwwah lebih tinggi dihadapan Allah SWT. terkadang emosi menguasai diri kita, emosi itulah yang menjadikan kita melupakan sebuah ukhuwwah yang merupakan bagian cinta karena Allah , menyayangi saudara kita dan tabayyun atas setiap berita juga merupakan nilai ukhuwwah yang harus selalu kita jaga dan tingkatkan.

Redaktur : Gilang Ramadhan