Rabu, 19 Juni 2013

New PM Palestina Kunjungi Masjid Al - Aqsha


Perdana Menteri (PM) baru Palestina Rami Hamdallah mengunjungi Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Jerusalem dalam kunjungan pertama bagi seorang perdana menteri Palestina yang sedang bertugas. 

"Jerusalem adalah simbol dari persoalan Palestina. Kunjungan kami hari ini menunjukkan betapa pentingnya Jerusalem bagi pemerintah Palestina," kata Hamdallah kepada WAFA, Ahad (16/6) waktu setempat.

WAFA melaporkan Hamdallah juga bertemu Mufti Jerusalem, Mohammed Hussein, dan mengunjungi rumah sakit Al-Maqased di Jerusalem timur yang diduduki Israel.

Pemerintah baru Palestina yang dipimpin oleh Hamdallah dilantik pada 6 Juni 2013 lalu di Ramallah, Tepi Barat. 


Redaktur : Gilang Ramadhan
Sumber : Antara

Jelas Obama Akui Kegiatan Pengintaian Internet (PRISM)




Di Berlin, Rabu (19/6), Presiden AS Barack Obama berusaha meyakinkan Kanselir Jerman Angela Merkel dan rakyat Jerman – serta Amerika – mengenai pentingnya program pengintaian itu.

Ngototnya Obama untuk membela berbagai kegiatan pengintaian oleh pemerintah Amerika karena menurutnya telah menyelamatkan banyak jiwa di seluruh dunia.

Dalam jumpa pers bersama dengan kanselir Jerman Angela Merkel hari Rabu (19/6), Presiden Obama mengatakan program pengintaian internet, yang disebut PRISM, telah efektif dan pada saat bersamaan program yang disetujui pengadilan itu juga memiliki batasan-batasan sehingga tidak melanggar privasi.
“Ini bukan situasi di mana kami mengecek setiap email biasa warga negara Jerman atau Amerika atau Perancis atau siapapun. Ini bukan situasi dimana kami masuk Internet dan mengecek apapun yang kami inginkan,” kata Obama.

Presiden Obama mengatakan pelaksanaan secara hati-hati program pengintaian tersebut telah menggagalkan setidaknya 50 ancaman serangan teror di Amerika dan negara-negara lain, termasuk Jerman.

Obama dan Kanselir Merkel membahas isu itu dan bermacam hal lainnya dalam pertemuan mereka pada pagi hari. Merkel mengatakan percakapan itu “membawa kemajuan bagi mereka” menuju pemahaman yang lebih luas tentang program pengintaian dan hasilnya. Tetapi ia mengatakan terus dibahas “isu-isu tentang keseimbangan dan proporsionalitas.”

Sebagian pihak di Jerman menyatakan kekhawatiran program PRISM mengingatkan mereka akan pengintaian oleh dinas intelijen Stasi pada masa komunis di Jerman Timur.

Obama juga menanggapi kemarahan Presiden Afghanistan Hamid Karzai yang mengatakan akan menangguhkan perundingan dengan Amerika untuk mempertahankan sejumlah tentara Amerika di Afghanistan lewat dari tahun depan. Hal itu dikemukakan sehari setelah Amerika mengumumkan akan memulai pembicaraan dengan Taliban hari Kamis.

Presiden Obama mengatakan kepada para wartawan ia tidak pernah memperkirakan proses perdamaian di Afghanistan akan mudah. “Kami sudah mengantisipasi sejak awal bahwa akan ada beberapa isu pertikaian sebelum hal ini bisa berjalan. Ini tidak mengejutkan. Seperti yang saya katakan, mereka sudah bertempur untuk waktu yang sangat lama,” tambah Obama.

Redaktur : Gilang Ramadhan

Menjaga Diri dari Fatamorgana


Allah subhanahu wata’ala berfirman,
“Orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ‘air’ itu, dia tidak mendapati apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (an-Nur: 39—40)
Dua Permisalan : Fatamorgana dan Kegelapan Lautan Dalam Yang Berlapis-lapis
Allah subhanahu wata’ala menyebutkan dua permisalan untuk orang-orang kafir, permisalan fatamorgana dan permisalan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Ini karena orang-orang yang berpaling dari petunjuk dan kebenaran itu ada dua macam. Salah satunya adalah seseorang yang mengira bahwa dirinya di atas suatu kebenaran, lalu menjadi jelas baginya saat terbukti hakikatnya berbeda dengan apa yang dia kira. Inilah kondisi orang-orang yang bodoh dan kondisi para pengikut bid’ah. Mereka mengira bahwa mereka berada di atas petunjuk dan ilmu. Ketika hakikatnya tersingkap, menjadi jelas bagi mereka bahwa ternyata mereka tidak berada di atas petunjuk. Mereka juga tahu, keyakinan dan amal mereka yang berasal dari ilmu mereka, hanya fatamorgana yang berada di tanah datar, yang terlihat oleh mata yang memandangnya sebagai air padahal tiada nyatanya.
Amalan (yang mereka sangka) Sebagai Kebaikan
Demikian pula amalan-amalan yang bukan karena Allah subhanahu wata’ala dan tidak berlandaskan perintah-Nya. Si pelaku menyangkanya bermanfaat baginya, padahal tidak demikian. Amalan inilah yang dikatakan oleh Allah subhanahu wata’ala,
“Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)
Coba perhatikan, bagaimana Allah subhanahu wata’ala menjadikan fatamorgana itu di atas tanah yang datar lagi kosong, tidak ada bangunan, pepohonan, dan tumbuhan. Di situlah tempat terjadinya fatamorgana: tanah yang kosong, tidak ada sesuatu. Memang, fatamorgana itu sesuatu yang tidak ada nyatanya. Permisalan ini sesuai dengan amalan dan kalbu mereka yang kosong dari iman dan hidayah.
Perhatikanlah firman-Nya,
“Orang yang dahaga menyangkanya air….”
Artinya, ketika orang yang sangat dahaga melihat fatamorgana, mengiranya sebagai air sehingga ia mengejarnya. Tetapi, ternyata ia tidak mendapatkan apa-apa. Fatamorgana itu menipunya di saat ia sangat membutuhkan air. Demikian juga keadaan mereka. Ketika amal mereka bukan karena taat kepada Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam dan bukan karena Allah subhanahu wata’ala, amal mereka dijadikan laksana fatamorgana. Amalan itu akan ditampakkan kepada mereka saat mereka sangat kehausan dan sangat membutuhkannya, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka justru mendapati Allah subhanahu wata’ala yang akan membalasi amal mereka dan akan memenuhi hisab mereka.
Dalam sebuah hadits tentang hari kiamat dalam kitab ash-Shahih, dari hadits sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam,
“Lalu didatangkan Jahannam dan ditampakkan laksana fatamorgana. Dikatakan kepada Yahudi, ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka mengatakan ‘Kami dahulu menyembah Uzair, putra Allah.’ Lantas dikatakan kepada mereka, ‘Kalian berdusta. Allah tidak memiliki istri dan anak, lantas apa yang kalian maukan sekarang?’ Mereka menjawab, ‘Kami menginginkan Engkau beri kami minum.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Minumlah!’ Akhirnya mereka berjatuhan di Jahannam. Kemudian dikatakan kepada orang-orang Nasrani, ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah al-Masih, putra Allah.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Kalian dusta. Allah subhanahu wata’ala tidak memiliki istri atau anak, lantas apa yang kalian inginkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami menginginkan Engkau memberi kami minum.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Minumlah!’ Akhirnya mereka berjatuhan….”
Inilah kondisi setiap pelaku kebatilan. “Amalan (yang disangka) Kebaikan” mereka akan mengkhianati mereka saat mereka sangat membutuhkannya, karena kebatilan itu tidak ada nyatanya. Sama dengan namanya, batil (yang dalam bahasa Arab berarti ‘sesuatu yang akan lenyap’), jika sebuah keyakinan tidak sesuai dengan (tuntunan) dan tidak benar, yang terkait dengannya juga batil.
Demikian pula jika tujuan sebuah amalan itu batil, seperti beramal karena selain Allah subhanahu wata’ala atau tidak di atas perintah-Nya, amalnya batil dengan sebab kebatilan tujuannya. Pelakunya akan merasa celaka karena sia-sianya amal tersebut. Ia justru akan mendapatkan kebalikan dari apa yang dia angan-angankan… Ia tersiksa dengan lenyapnya manfaat amalannya dan perolehan yang sebaliknya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala berfirman,
“Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (an-Nur: 39)
Inilah permisalan seseorang yang dia mengira dirinya berada di atas petunjuk.
Amalan Sesat Bagai Kegelapan Yang Bertumpuk-tumpuk
Macam yang kedua, adalah pemilik permisalan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan petunjuk, namun lebih mengutamakan kegelapan kebatilan dan kesesatan daripada kebenaran tersebut. Akhirnya, menumpuklah kegelapan tabiatnya, kegelapan jiwanya, kegelapan kebodohannya, dan kegelapan kesesatan serta hawa nafsu, yang mereka tidak mengamalkan ilmu mereka sehingga mereka menjadi bodoh.
Keadaan mereka laksana seseorang yang berada di lautan yang dalam lagi tidak bertepi, sementara itu ombak meliputinya. Di atas ombak itu ada ombak lagi. Di atasnya lagi ada awan yang gelap. Jadilah ia berada di kegelapan lautan, kegelapan ombak, dan kegelapan awan. Ini seperti kegelapan yang ia berada padanya. Kegelapan yang Allah subhanahu wata’ala tidak mengeluarkannya darinya menuju cahaya iman.
Dua permisalan ini, permisalan fatamorgana yang dia kira sumber kehidupan, yaitu air, dan permisalan kegelapan-kegelapan yang berlawanan dengan cahaya, mirip dengan permisalan orang-orang munafik dan orang-orang mukmin, yaitu permisalan air dan api. Allah subhanahu wata’ala menjadikan bagian bagi mukminin dari keduanya adalah kehidupan dan cahayanya, sedangkan bagian untuk munafik adalah kegelapan yang merupakan lawan dari cahaya dan kematian yang merupakan lawan dari kehidupan.
Demikian juga orang-orang kafir dalam dua permisalan ini. Bagian mereka hanyalah fatamorgana yang menipu orang yang melihatnya—sesuatu yang tidak ada kenyataannya—dan bagian mereka adalah kegelapan-kegelapan yang berlapis-lapis.
Bisa jadi, maksud ayat ini adalah keadaan salah satu dari kelompok-kelompok orang kafir. Mereka kehilangan sumber kehidupan dan cahaya karena mereka berpaling dari wahyu. Oleh karena itu, dua permisalan ini adalah untuk satu golongan.
Namun, bisa jadi pula, maksudnya adalah macam-macam keadaan orang kafir. Permisalan pertama adalah mereka yang beramal tanpa ilmu, hanya dengan kebodohan dan baik sangka terhadap para pendahulu (nenek moyangnya). Mereka mengira telah berbuat baik. Adapun permisalan kedua adalah bagi yang lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk dan mendahulukan yang batil daripada yang haq. Mereka buta padahal sebelumnya melihatnya. Mereka pun mengingkari padahal sebelumnya mengetahui. Inilah keadaan orang-orang yang dimurkai. Adapun yang pertama adalah keadaan orang-orang yang sesat.
Redaktur : Gilang Ramadhan

Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus


Suatu hari Abdullah ibnu Abbas Radhiyallahu anhu yang masih belia memperoleh wasiat dari sepupunya yang mulia, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam:
“Wahai anakku, sungguh aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau meminta (suatu keperluan) maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, andai umat ini berkumpul untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa memberikannya selain sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudaratan kepadamu niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya, selain sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran catatan.”2

Dalam riwayat lain, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda kepadanya:
“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam keadaan engkau lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat engkau dalam kesempitan. Ketahuilah, apa yang telah ditetapkan luput darimu niscaya tidak akan menimpamu dan apa yang ditetapkan menimpamu niscaya tidak akan luput darimu. Ketahuilah, pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.”3
Wasiat yang tersampaikan lewat lisan Rasul Shalallahu ‘alaihi wassalam ini adalah wasiat yang sangat bermanfaat. Sepantasnya setiap muslim menghafalkan dan mengamalkannya karena mengamalkannya akan mendatangkan kebahagiaan dan kesuksesan.

Wasiat pertama: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu.”
Menjaga Allah Subhanahu wata’ala adalah menjaga syariat agama-Nya dan batasan-batasan-Nya, yakni seseorang menjaga ketaatan kepada Allah dan menegakkan batasan-batasan Allah. Jika batasan tersebut berupa kewajiban maka ia tidak melampauinya. Jika berupa keharaman, ia meninggalkan dan menjauh darinya. Siapa yang menjaga Allah niscaya Allah akan menjaga agama, keluarga dan hartanya.
Menegakkan ketaatan kepada Allah adalah sebab dijaganya agama seorang hamba hingga ia wafat. Di samping itu, ia juga menjadi sebab terjaganya keluarga seseorang ketika hidupnya dan setelah matinya sehingga tidak terjadi sesuatu yang tak disukai pada keluarga yang ditinggalkan. Disebutkan dalam surah al-Kahfi tentang perjalanan Nabi Musa Alaihi salam dan Nabi Khidhir Alaihi salam, saat Nabi Khidhir menegakkan dinding yang hampir roboh karena di bawahnya ada harta yang tersimpan milik dua anak yatim yang akan dikeluarkan oleh Allah apabila keduanya telah dewasa. Disebutkan bahwa ayah kedua anak tersebut adalah seorang yang saleh.
“Adalah ayah keduanya seorang yang saleh.” (al-Kahfi: 82)
Ini menjadi bukti penjagaan Allah Subhanahu wata’ala terhadap keturunan seorang hamba yang saleh.
Menjaga batasan Allah juga menjadi sebab terjaganya harta seorang hamba. Bukankah Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman:
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan jadikan jalan keluar baginya dan Dia beri rezki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (ath-Thalaq: 2—3)
Betapa banyak orang yang diberkahi hartanya, dijaga dari penyakit-penyakit dan gangguan karena ia menjaga batasan-batasan Allah.

Wasiat kedua: Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, “Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.”
Termasuk manfaat yang diperoleh hamba dengan ia menjaga batasan-batasan Allah adalah Allah ada di hadapan si hamba. Allah Subhanahu wata’ala memberi hidayah kepadanya berupa hal-hal mengandung kebaikan si hamba. Allah Subhanahu wata’ala juga memudahkan urusannya sehingga tidak ia dapatkan sebuah urusan pun melainkan menjadi mudah dan ringan.

Wasiat ketiga: “Kenalilah Allah dalam keadaan lapang niscaya Dia akan mengenalimu di saat sempit.”
Tabiat umumnya manusia, saat lapang ia bersenang-senang dan melupakan hak-hak Allah. Adapun orang-orang yang diberikan taufik, mereka mengetahui bahwa kelapangan tidaklah terus-menerus dirasakan. Pasti ada saatnya seseorang jatuh dalam kesempitan dan kesulitan—paling tidak kesulitan saat kematian: berpisah dengan harta, istri dan anak. Maka dari itu, ketika lapang mereka melakukan amalan yang bisa menolong mereka di saat sempit. Di saat lapang mereka mengenali Rabb mereka dengan cara menunaikan ketaatan kepada-Nya. Allah Subhanahu wata’ala tidak kehilangan mereka dari mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka. Allah Subhanahu wata’ala pun tidak mendapati mereka mengerjakan apa yang dilarang oleh-Nya. Siapa yang mengenal Allah dalam keadaan senang, di saat sehat, atau di saat hidup dalam kekayaan, niscaya Allah akan mengenalinya dalam keadaan sempit.
Kesempitan bisa berupa kefakiran, sakit, atau rasa takut. Kesempitan paling besar yang akan dialami seorang hamba adalah saat kematian, karena kematian adalah saat berpisah dengan dunia dan menuju ke negeri akhirat. Dalam keadaan seperti ini, yang paling dia butuhkan adalah kelembutan Allah Subhanahu wata’ala dan rahmat-Nya. Di saat kematian datang menjemputnya, terkumpul padanya berbagai kesulitan: kesulitan berpisah dengan dunia, istri, anak, dan harta. Demikian juga kesulitan berupa rasa sakit yang menimpanya saat itu (sakaratul maut), kesulitan berupa ngerinya pemandangan yang ada, ditambah oleh kesulitan untuk tetap kokoh di atas iman. Hal ini karena setan sangat berambisi untuk menyimpangkan hamba dan menyesatkannya saat itu. Saat tersebut adalah poros penentu kebahagiaan seorang hamba atau celakanya. Bisa jadi, di saat genting demikian, ditawarkan kepada si hamba agama Yahudi dan Nasrani atau selainnya sebagai fitnah (ujian) baginya. Jika si hamba mengenali Rabbnya di saat lapang, Allah akan mengenalinya dalam kesempitan, mengokohkannya, dan menutup umurnya dengan akhir yang baik (husnul khatimah).
Wasiat keempat dan kelima: Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, “Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan bila engkau minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.”
Siapa yang ingin kebutuhannya terpenuhi tanpa harus berutang budi kepada seseorang selain Allah saja dan tanpa beroleh kesulitan, hendaknya ia memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala, minta keutamaan, dan bersandar hanya kepada-Nya.
Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam telah membaiat sejumlah sahabat beliau agar tidak meminta apapun kepada manusia. Sampai-sampai ada salah seorang dari mereka yang cambuk atau tali kekang untanya jatuh, namun ia tidak meminta seorang pun untuk mengambilkannya. (HR. Muslim)
Kalaupun kita terpaksa minta tolong kepada makhluk dalam hal yang makhluk mampu melakukannya, yakinlah bahwa itu hanyalah sebab. Adapun yang menetapkannya dan menolong secara hakiki adalah Dia Yang di Atas. Maka dari itu, jangan lupakan Dia ketika Dia menolongmu lewat perantara seseorang dari kalangan hamba-Nya.
Di akhir sabdanya (dari hadits tersebut diatas), Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam menerangkan bahwa umat ini tidak akan mampu memberikan kemanfaatan kepadamu atau memudaratkanmu selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala bagimu. Apa yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu, pasti akan menimpamu karena ketentuan takdir telah selesai. Semuanya telah tercatat.
Setelahnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berkata kepada sepupunya (Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu) agar ia tahu bahwa pertolongan itu datang bersama kesabaran. Siapa yang bersabar, ia akan menang dan mencapai tujuannya. Kelapangan itu bersama kesulitan. Kapan saja kesulitan itu semakin besar menimpamu dan urusannya terasa sempit bagimu, menghadaplah kepada Rabbmu. Nantikanlah kelapangan dari-Nya karena sungguh kelapangan itu sangat dekat. Dan kesulitan itu bersama kemudahan. Kesulitan itu dilingkupi oleh dua kemudahan, kemudahan yang telah lewat dan kemudahan yang akan datang.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Maka sungguh bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” (al-Insyirah: 5—6)4
Oleh karena itu, satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan, kata Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu.
Demikianlah wasiat Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalamkepada anak pamannya. Hafalkan, realisasikan dan amalkanlah, mudah-mudahan kita termasuk orang yang beruntung.
Sebagai penutup, kita akan menyimpulkan beberapa faedah dari hadits di atas.
1. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam memiliki sifat lembut kepada orang yang kedudukannya di bawah beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam. Dalam hal ini, beliau menyapa sepupunya dengan kalimat, “Wahai anak!”
2. Sebelum menyampaikan sesuatu yang penting, hendaknya seseorang mengawali dengan kalimat yang menarik perhatian pendengar. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mengatakan, “Wahai anak, aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat.”
3. Siapa yang menjaga Allah Subhanahu wata’ala, niscaya Allah akan menjaganya.
4. Siapa yang menyia-nyiakan agama Allah, Allah pun akan menyia-nyiakannya, tidak menjaganya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah maka Allah jadikan mereka melupakan diri-diri mereka. Mereka itulah orang-orang fasik.”(al-Hasyr: 19)
5. Siapa yang menjaga Allah, Allah akan memberi hidayah dan menunjukkan kebaikan kepadanya. Konsekuensi penjagaan Allah adalah Allah akan menghalangi kejelekan dari si hamba.
6. Jika seseorang membutuhkan pertolongan, hendaklah ia meminta tolong kepada Allah.
7. Manusia/makhluk yang ada tidak akan mampu memberikan kemanfaatan kepada seseorang melainkan apabila Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkannya. Demikian pula sebaliknya, manusia tidak mampu memudaratkan seseorang melainkan jika Allah telah menentukannya.
8. Seseorang wajib menggantungkan harapannya kepada Allah dan tidak menoleh kepada makhluk karena makhluk tidak bisa memberi manfaat dan tidak pula dapat menolak kemudaratan.
9. Segala sesuatu telah tercatat dalam catatan takdir karena seperti kata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalamdalam hadits yang sahih bahwa takdir makhluk telah Allah tetapkan 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. (HR. Muslim)
10. Urusan yang telah ditetapkan oleh Allah akan diperoleh oleh seseorang, pasti dia akan mendapatkannya, tidak akan luput darinya. Sebaliknya, apa yang ditetapkan oleh Allah tidak akan diperoleh si hamba, selamanya ia tidak akan didapatkannya.
11. Kabar gembira yang agung bagi orang-orang yang bersabar, yakni dekatnya pertolongan Allah Subhanahu wata’ala untuknya karena pertolongan itu selalu bergandengan dengan kesabaran.
12. Kabar gembira besar yang lain, bahwa kesulitan itu pasti akan hilang karena kelapangan selalu bergandengan dengan kesulitan itu sendiri. Dengan demikian, manakala seorang hamba mengalami kesulitan dalam suatu urusan niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memberikan kelapangan kepadanya setelah kesulitan tersebut.
13. Kabar gembira yang ketiga adalah jika seseorang ditimpa oleh kesulitan maka hendaklah ia menanti datangnya kemudahan karena Allah telah menyebutkan hal tersebut dalam Al-Qur’anul Karim. Dia Yang Mahasuci berfirman:
“Maka sungguh bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” (al-Insyirah: 5—6)
Jika urusan yang engkau hadapi terasa sulit, berdoalah kepada Allah sembari menantikan kemudahan dari-Nya dan membenarkan janji-Nya.
14. Hiburan bagi hamba tatkala terjadi musibah dan terluput dari urusan yang diidamkannya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda (yang artinya), “Ketahuilah apa yang telah ditetapkan luput darimu niscaya tidak akan menimpamu. Dan apa yang ditetapkan menimpamu niscaya tidak akan luput darimu.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Redaktur : Gilang Ramadhan

I Nerazzuri Resmi Gaet Pemain Muslim Asal Prancis



Inter Milan dikabarkan telah resmi mengontrak pemain muslim Parma, Ishak Belfodil (21 tahun). Playmaker Prancis keturunan Aljazair itu dibeli dengan melibatkan Antonio Cassano, MacDonald Mariga, dan Matias Silvestre sebagai bagian dari opsi pertukaran.
Dengan demikian, Belfodil menjadi pemain kedua yang didatangkan I Nerazzuri musim panas ini. Sebelumnya, klub milik Massimo Moratti itu telah mendatangkan bomber muda Sampdoria, Mauro Icardi.
“Kami telah merencanakan masa depan dengan pemain-pemain muda seperti Belfodil dan Icardi, walaupun saat ini pun mereka sudah hebat,” kata Moratti seperti dilansir Football Italia.
Sebelum memperkuat Inter, Belfodil pernah memperkuat klub-klub seperti Lyon, Bologna, dan Parma. Ia adalah andalan Prancis di berbagai level timnas usia muda.
Redaktur : Gilang Ramadhan

Penting Uji Materi ke MK, Dana Lumpur Lapindo Tercantum di RAPBNP 2013



Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman mempersilahkan masyarakat mengajukan uji materi Pasal 9 UU APBNP 2013 yang mencatumkan anggaran Rp 155 miliar bagi korban lumpur Lapindo ke Mahkamah Konstitusi. Dia mengaku akan mendukung langkah tersebut. "Silakan saja masyarakat yang punya legal standing mengajukan ke MK. Pasti kita mendukung bila diujimaterikan," kata Sohibul kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (19/6).
Politisi PKS ini mengaku terkejut dengan keberadaan pasal tersebut. Menurutnya redaksional kalimat di Pasal 9 UU APBNP 2013 terlalu mendetail. "Kok sampai sedatail itu dimasukan dalam undang-undang," ujar Wakil Ketua DPR tersebut.
Sohibul enggan berspekulasi makna dibalik pasal tersebut. Dia mempersilakan media untuk menafsirkan sendiri, termasuk soal kemungkinan adanya kesepakatan antara pemerintah dan Partai Golkar terkait upaya meloloskan RUU APBNP 2013. 
Bantuan terhadap korban lumpur Lapindo semestinya cukup diatur dalam peraturan pemerintah. Sohibul mengakui partai oposisi kecolongan menyikapi pasal ini. "Sebetulnya harusnya ada di peraturan pemerintah. Tentu teman PDIP kecolongan," ujarnya. 
Sebelumnya, pemerintah siap mengalokasikan dana Rp 155 miliar untuk membantu korban bencana lumpur Lapindo. Alokasi dana tersebut tertera dalam Pasal 9 RUU Nomor/2013 tentang APBN 2013. "Untuk kelancaran upaya penanggulangan lumpur Sidoarjo, alokasi dana pada Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) tahun anggaran 2013 dapat dipergunakan," bunyi Pasal 9 ayat 1 RUU APBN 2013.
Dalam Pasal 9 Ayat 1 APBN 2013 poin (a) dijelaskan alokasi dana bantuan diperuntukan bagi pelunasan pembayaran pembelian tanah dan bangunan di luar peta area terdampak di tiga desa: Desa Besuki, Desa Kedungcangkring, dan Desa Pejarakan. Selain itu, alokasi anggaran juga diperuntukan bagi rukun tetangga di tiga kelurahan yakni Kelurahan Siring, Kelurahan Jatirejo, dan Kelurahan Mindi.
Pemerintah beralasan bantuan bagi korban lumpur Lapindo untuk menyelamatkan perekonomian dan kehidupan sosial kemasyarakatan di sekitar tanggul Sidoarjo. Anggaran yang diperuntukan bagi BPLS dapat digunakan untuk kegiatan mitigasi penanggulangan semburan lumpur. Termasuk di dalamnya penanganan tanggul utama sampai ke Kali Porong. "Pagu paling tinggi sebesar Rp 155 miliar," tulis Pasal 9 ayat 2.
Redaktur : Gilang Ramadhan

Selasa, 18 Juni 2013

Lembaga Pendidikan Nasional Tendensius Kepada PKS Ada Apa ?



Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merasa ada tendensi tertentu saat kasus mantan presiden Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) dimasukkan dalam soal ujian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bogor. 
"Kenapa harus LHI? kenapa bukan Anas Urbaningrum? Andi Mallarangeng? Menurut kami ada tendensi. Harus diusut dan ditarik siapa yang buat dan punya ide," kata Ketu DPP PKS Nasir Jamil di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (19/6).
Anggota Komisi III DPR itu menilai ada upaya pembunuhan karakter. Karena kasus LHI masih dalam proses hukum dan belum sampai pada tahap pputusan. Sehingga tidak etis bila seorang pelajar dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu. Meski soal tersebut sifatnya hanya tentang struktur kalimat.
"Kalau pengacara LHI tahu dia bisa gugat panitia ujian atau siapa pun yang punya ide ini," ujarnya.
Sebelumnya, dalam soal ujian Bahasa Indonesia tingkat XI SMK di Kabupaten Bogor, terdapat contoh kalimat tentang penyitaan mobil Luthfi Hasan Ishaaq. 
Pada soal bernomor 50, tertulis: Upaya KPK menyita mobil mewah mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq, kemarin gagal...
Kalimat tersebut dapat disingkat dengan menghilangkan pernyataan di bawah ini, kecuali...
a. menyita mobil
b. Luthfi Hasan Ishaaq
c. kemarin
d. mantan
e. gagal

Redaktur : Gilang Ramadhan